BIARKAN FOTO BERBICARA. BIARKAN FOTO MENJADI MAKNA. BIARKAN FOTO MENCERMINKAN DIRI.
Previous Posts
Archives
Links
Powered for Blogger
by Blogger templates
welcome 2 BE ONE
HUJAN
Kemaren sore, sejak jam 16.30, hujan amat deras mengguyur kota Madiun. Selama satu setengah tahun di Madiun, rasa-rasanya, baru kali ini hujan selebat dan selama ini. Saya jadi teringat, dua musibah tanah longsor dan banjir bandang yang terjadi di Jember dan Bandung.
Jam 17.30 saya baru meninggalkan kantor dan buru-buru pulang ke rumah, karena saya tahu, ada bagian atap rumah saya yang ga beres. Benar seperti yang saya duga, air sudah dengan derasnya membajari kamar tidur, barang2 sudah sebagian dipindahkan oleh anak saya, tapi tetap saja basah.
Saya hanya katakan kepada anak saya, "Kita bisa bayangkan bagaimana putus asanya, sedihnya, stressnya, orang-orang yang tertimpa bencana air bah, banjir dan tanah longsor. Kita baru sedikit saja merasakan sudah bisa putus asa, sedih dan stress" Ini adalah pelajaran buat saya untuk selalu siap dalam kondisi apapun. Karena kita tidak akan tahu bagaimana esok.
MATA HATI
Mata hati lebih tajam dari mata beneran. Bener. Ga percaya? Tapi sering kali kita mengabaikan mata hati kita. Tetap ga percaya juga? kebangetan deh. Masa ga percaya sama aku? Iya ya lah, maksud ku mata hati itu hati nurani... Dan mata beneran sering kali menipu dari mata hati. Sudah percaya belum? Tetap ga juga.
Ok... coba deh, kalo kita memandang gunung dari kejauhan. Sementara kita berdiri disamping sebatang pokok. Kalo mata kita melihat gunung, sementara kita berada dibawah pohon. Pasti mata kita menyampaikan informasi bahwa gunung itu lebih kecil dari pohon. Buktinya, seluruh bentuk gunung itu dapat kita lihat seluruhnya. Sementara pohon, kita bisa berlindung dibawahnya dan kalo mau melihat pucuknya, kita mesti mendongakan kepala ke atas.
Masih belum ngeh juga? .... nah, padahal kita tahu, gunung itu lebih besar dari pohon. Malahan pohon berada di gunung itu. Ribet? pusing? makanya gunakan mata hati. Yang selalu melihat kebenaran dan ga pernah munafik. Go head man.
NADIKU
Kedekap kelopak mataku perlahan dan kubiarkan hangatnya matahari merasuk kedalam aliran darah dan menggelorakan hati.
Kepeluk dadaku membiarkan aliran angin siang menyentuh rambut-rambut halus di dada membuat aliran geli menusuk-nusuk ke dalam paru.
Kelemaskan kaki ku menjuntai mengejar bumi meluruhkan seluruh penat karena menopang tubuh tambun ku bergerak sepanjang hari.
Ketelentangkan badan ku melintasi aras dari timur ke barat membiarkan angin utara ke selatan melintasi tubuhku yang mengalirkan peluh dari dalah jasad.
Nadiku mengalir deras, dari bilik jantungku melewati pembuluh terus menyebar ke seluruh tubuhku tanpa pernah kenal lelah.
Nadiku mengantarkan berjuta-juta makanan dan penghangat badan agar aku tidak menggigil dan agar aku memiliki tenaga untuk bergerak.
Nadiku berdenyut memberikan irama hidup menebarkan harapan akan hari depan yang sering menjanjikan mimpi-mimpi indah yang bukan kepalang.
Nadiku tak berhenti sebelum Sang Pemilik meminta kembali pada suatu saat dimana segalanya akan berakhir.
Saya coba katakan, sebuah kalimat mungkin tiada makna yang mengalir dari hati sanubari melalui jemari-jemari ku diatas key board untuk merangkai kata. Mungkin tak berarti. Tapi saya mencoba untuk menuliskan apa yang ada dalam hati dan pikiran tentang jati diri yang ingin dicari. Seperti apa dan dimana?