Kedekap kelopak mataku perlahan dan kubiarkan hangatnya matahari merasuk kedalam aliran darah dan menggelorakan hati.
Kepeluk dadaku membiarkan aliran angin siang menyentuh rambut-rambut halus di dada membuat aliran geli menusuk-nusuk ke dalam paru.
Kelemaskan kaki ku menjuntai mengejar bumi meluruhkan seluruh penat karena menopang tubuh tambun ku bergerak sepanjang hari.
Ketelentangkan badan ku melintasi aras dari timur ke barat membiarkan angin utara ke selatan melintasi tubuhku yang mengalirkan peluh dari dalah jasad.
Nadiku mengalir deras, dari bilik jantungku melewati pembuluh terus menyebar ke seluruh tubuhku tanpa pernah kenal lelah.
Nadiku mengantarkan berjuta-juta makanan dan penghangat badan agar aku tidak menggigil dan agar aku memiliki tenaga untuk bergerak.
Nadiku berdenyut memberikan irama hidup menebarkan harapan akan hari depan yang sering menjanjikan mimpi-mimpi indah yang bukan kepalang.
Nadiku tak berhenti sebelum Sang Pemilik meminta kembali pada suatu saat dimana segalanya akan berakhir.