BIARKAN FOTO BERBICARA. BIARKAN FOTO MENJADI MAKNA. BIARKAN FOTO MENCERMINKAN DIRI.

Previous Posts

Archives

Links


Powered for Blogger
by Blogger templates

welcome 2 BE ONE

Thursday, September 15, 2005
MATA HATI
Mata hati lebih tajam dari mata beneran. Bener. Ga percaya? Tapi sering kali kita mengabaikan mata hati kita. Tetap ga percaya juga? kebangetan deh. Masa ga percaya sama aku? Iya ya lah, maksud ku mata hati itu hati nurani... Dan mata beneran sering kali menipu dari mata hati. Sudah percaya belum? Tetap ga juga.

Ok... coba deh, kalo kita memandang gunung dari kejauhan. Sementara kita berdiri disamping sebatang pokok. Kalo mata kita melihat gunung, sementara kita berada dibawah pohon. Pasti mata kita menyampaikan informasi bahwa gunung itu lebih kecil dari pohon. Buktinya, seluruh bentuk gunung itu dapat kita lihat seluruhnya. Sementara pohon, kita bisa berlindung dibawahnya dan kalo mau melihat pucuknya, kita mesti mendongakan kepala ke atas.

Masih belum ngeh juga? .... nah, padahal kita tahu, gunung itu lebih besar dari pohon. Malahan pohon berada di gunung itu. Ribet? pusing? makanya gunakan mata hati. Yang selalu melihat kebenaran dan ga pernah munafik. Go head man.
NADIKU
Kedekap kelopak mataku perlahan dan kubiarkan hangatnya matahari merasuk kedalam aliran darah dan menggelorakan hati.
Kepeluk dadaku membiarkan aliran angin siang menyentuh rambut-rambut halus di dada membuat aliran geli menusuk-nusuk ke dalam paru.
Kelemaskan kaki ku menjuntai mengejar bumi meluruhkan seluruh penat karena menopang tubuh tambun ku bergerak sepanjang hari.
Ketelentangkan badan ku melintasi aras dari timur ke barat membiarkan angin utara ke selatan melintasi tubuhku yang mengalirkan peluh dari dalah jasad.

Nadiku mengalir deras, dari bilik jantungku melewati pembuluh terus menyebar ke seluruh tubuhku tanpa pernah kenal lelah.
Nadiku mengantarkan berjuta-juta makanan dan penghangat badan agar aku tidak menggigil dan agar aku memiliki tenaga untuk bergerak.
Nadiku berdenyut memberikan irama hidup menebarkan harapan akan hari depan yang sering menjanjikan mimpi-mimpi indah yang bukan kepalang.
Nadiku tak berhenti sebelum Sang Pemilik meminta kembali pada suatu saat dimana segalanya akan berakhir.